Sunday, January 1, 2017

Telur Yang Tak Kunjung Menetas

Diposkan oleh Martina Felesia di 10:16 PM
Ina si Ayam Betina kebingungan.  Sudah lebih dari dua puluh satu hari ia mengerami telur-telur miliknya, tapi mereka tak kunjung menetas.  Semuanya ada delapan butir telur.  Sambil mengerami telur-telur itu ia berpikir keras, adakah sesuatu yang salah?  Apakah kandangnya kurang hangat?  Ina sangat sedih.  Ia berharap anak-anaknya sudah menetas tepat pada saat tahun baru.  Tapi ternyata harapannya tak kunjung terjadi.

Pada hari ke-25, salah satu telur mulai menetas.  Seekor ayam mungil yang cantik keluar dari cangkangnya.

"Halo......engkau siapa?" ia menyapa Ina.

"Halo......tentu saja aku ibumu. Dan engkau adalah anakku!"

"Mamaaa........!"  Anak ayam itu berlari memeluknya. "Tapi...mengapa engkau diam saja, mama?  Mengapa engkau tidak beranjak dari tempat dudukmu?" tanyanya lagi.

"Sayang....mama bukannya tidak mau beranjak dari tempat duduk mama.  Tapi lihatlah.  Masih ada tujuh lagi saudaramu yang belum juga mau keluar dari cangkangnya," Ina menjawab. "Sebagai penanda, engkau kupanggil si "Pertama".  Artinya engkau adalah saudara yang paling tua karena menetas terlebih dahulu!"

"Oooo....jadi itukah namaku? Si Pertama.  Kedengarannya nama yang hebat.  Terima kasih, mama!"

Keesokan harinya telur yang kedua mulai menetas.  Keesokan hari dan keesokan harinya lagi telur-telur yang lain mulai menyusul.  Ina sangat bahagia.  Akhirnya telur-telur itu menetas meskipun ia harus menunggu lama.  Ia memberikan nama si Kedua....Ketiga.....Keempat....Kelima....Keenam dan terakhir Ketujuh.  Mereka semua terlihat begitu imut dan menggemaskan.

Sayangnya ada satu telur yang kelihatannya tidak akan pernah menetas.  Tampaknya ia begitu kukuh bertahan hidup di dalam cangkang.  Telur itu terlihat agak berbeda dalam segi bentuk dan warna.  Ia agak sedikit lebih besar dan berisi. Meskipun cemas, toh akhirnya Ina memutuskan untuk tetap mengeraminya.

Sebulan telah berlalu dan kesabaran Ina si ayam betina sudah hampir hilang.  Ingin rasanya ia beranjak dari tempat mengeramnya sekarang.  Anak-anaknya yang lain butuh makan.  Mereka semua masih memerlukan ibunya.

Pada saat Ina hampir hilang kesabaran, tiba-tiba saja keajaiban terjadi.  Telur terakhir mulai retak dan bergerak sendiri.  Seraut wajah muncul.

"Halooo......!  Mamaa.......!" Ia terengah-engah memeluk Ina.

"Ah...hai...halooo.......!" Ina menjawab sambil balas memeluk. Tapi kemudian ia sadar ada yang aneh.  Si Bungsu tampak begitu berbeda dengan saudara-saudaranya yang lain.  Ia terlihat lebih besar dan kuat.  Paruhnya pun berbeda.  Ina memandangnya lekat. Tapi tak apalah, mungkinkarena sudah terlalu lama di dalam cangkang ia menjadi terlihat aneh.

Keesokan harinya, Ina mengajak ke delapan anaknya berjalan-jalan di peternakan.  Sambil lalu ia mengais-ngais tanah mencari cacing untuk makan anak-anaknya.  Semua terlihat senang dan gembira.  Anak-anak ayam yang lucu itu berlarian ke sana kemari dengan girang.  

Tiba-tiba mereka berpapasan dengan keluarga Uti si Bebek.  Anak-anak Uti juga masih kecil-kecil.  Kelihatannya mereka juga baru menetas.  Hanya saja yang aneh, ada satu anaknya yang mirip sekali dengan anak-anak Ina si Ayam Betina.  Sepertinya ada yang tidak beres.

"Hai Ina....apa kabar?" Uti menyapa terlebih dahulu.

"Baik Uti.....kamu juga baik-baik saja, kan?"  Ina menjawab.

"Mmmmm....bolehkah kutanyakan sesuatu. "Mengapa anakmu ada satu yang begitu mirip dengan anakku?"

"Mmmmm....dan mengapa juga ada anakmu yang begitu  mirip dengan anakku?" Ina balas bertanya.

"Atau jangan-jangan...........!" Ina dan Uti bicara bersamaan. "Jangan-jangan mereka tertukar oleh Pak Udi si pemilik peternakan waktu beliau beres-beres waktu itu.  Jangan-jangan Pak Udi tidak sadar bahwa ada satu telur yang tertukar," kembali mereka berdua bicara bersamaan.

Dan akhirnya terpecahlah misteri mengapa ada dua makhluk itu begitu berbeda dengan yang lain.  Ternyata mereka berdua memang berbeda ibu.  Dengan penuh bahagia, akhirnya Ina dan Uti sepakat untuk mengambil kembali anak mereka masing-masing.  Dan akhirnya, kedua keluarga itu hidup rukun dan damai selamanya.

0 komentar:

Post a Comment

 

All About Kids Copyright © 2011 Design by Ipietoon Blogger Template | web hosting