Friday, May 8, 2009

Mengapa Harus Malu?

Diposkan oleh Martina Felesia di 2:30 PM

Siang itu Pilar tampak cemberut. Dipandangnya bunda dengan tatapan marah. Mengapa sih bunda tidak pernah memberinya uang jajan? Hampir setiap hari ia dipermalukan teman-temannya karena tidak pernah jajan di sekolah.

"Bunda, kenapa sih Bunda selalu menyuruh Pilar bawa bekal? Teman-teman yang lain jarang ada yang bawa bekal. Mereka mendapat uang jajan dari ibu mereka masing-masing. Jadi mereka bisa jajan di kantin," katanya merajuk.

"Sayang, kan kata ibu guru memang tidak boleh bawa uang jajan ke sekolah. Harus bawa bekal dari rumah,"bunda menjelaskan dengan sabar.

"Iya...tapi banyak kok teman-teman Pilar yang jajan. Enak kali mereka. Ibu guru juga tidak marah melihat mereka jajan," sambung Pilar dengan mulut masih tetap cemberut.

"Bukannya Bunda tidak mau memberi Pilar uang jajan. Hanya saja begini. Kalau misalnya Pilar jatuh sakit karena jajan makanan yang belum tentu terjamin kebersihannya, siapa yang susah? Pilar juga, kan?"Bunda menyentil hidung anak gadisnya dengan sayang.

"Tapi Pilar malu sama teman-teman, Bunda...!"

"Mengapa harus malu? Pilar kan sudah memberikan contoh yang baik kepada teman lainnya. Mungkin saja teman-teman Pilar jajan karena ibu mereka memang tidak sempat untuk membawakan bekal. Padahal Bunda yakin, mereka pasti suka kalau bisa membawa bekal sendiri dari rumah. Selain kebersihannya terjaga, seorang ibu pasti tahu apa kemauan anaknya,"bunda menambahkan lagi sambil merapikan sepatu Pilar yang berserakan sepulang sekolah.

Beliau menambahkan : "Jajan adalah kebiasaan yang tidak baik. Selain boros, terkadang kita tidak tahu makanan itu bersih atau tidak, sehat atau tidak. Lalat kotor bisa saja menghinggapi makanan yang dijual sembarangan. Selain itu kandungan gizinya belum tentu terjamin. Resiko sakit selalu ada. Kalau sakit, kita sendiri yang rugi. Tidak bisa sekolah, tidak bisa bermain, tidak bisa melakukan kegiatan yang kita suka."

"Tapi Bunda.....! Sekali-kali boleh kan Bunda kasih uang saku untuk Pilar?"

"Boleh saja..! Asalkan ada syaratnya,"bunda mengerling dengan mimik lucu.

"Apa itu?"

"Pilar akan mendapatkan uang saku kalau setiap Bunda pulang kerja, semua PR sudah selesai dikerjakan, anak Bunda sudah cantik berseri duduk di rumah, dan...tidak klayapan kemana-mana tanpa seijin kakak pengasuh. Setuju?"

"Wah....banyak sekali syaratnya!" seru Pilar lagi.

"Bukan itu saja..,"Bunda melanjutkan. "Uang saku yang Bunda kasih separuhnya harus masuk celengan. Dengan demikian, mulai sekarang Pilar sudah bisa mulai belajar mengatur keuangan."

Sejenak Pilar tercenung mendengar penjelasan bundanya. Tapi karena dasarnya ia adalah anak yang periang, maka sebentar kemudian tawanya sudah pecah kemana-mana.

"Baiklah, Bunda. Pilar setuju!. Mulai sekarang, Pilar janji tidak akan malu lagi walaupun harus membawa bekal ke sekolah. Pilar juga janji akan mematuhi apa yang Bunda katakan. I love you, Bunda!" Pilar memeluk bundanya dengan sayang.

"I love you too, Pilar!" bunda mencium kedua pipinya dan segera mengajaknya untuk segera menikmati hidangan makan siang.

0 komentar:

Post a Comment

 

All About Kids Copyright © 2011 Design by Ipietoon Blogger Template | web hosting