Sunday, January 1, 2017

Telur Yang Tak Kunjung Menetas

Diposkan oleh Martina Felesia di 10:16 PM 0 komentar
Ina si Ayam Betina kebingungan.  Sudah lebih dari dua puluh satu hari ia mengerami telur-telur miliknya, tapi mereka tak kunjung menetas.  Semuanya ada delapan butir telur.  Sambil mengerami telur-telur itu ia berpikir keras, adakah sesuatu yang salah?  Apakah kandangnya kurang hangat?  Ina sangat sedih.  Ia berharap anak-anaknya sudah menetas tepat pada saat tahun baru.  Tapi ternyata harapannya tak kunjung terjadi.

Pada hari ke-25, salah satu telur mulai menetas.  Seekor ayam mungil yang cantik keluar dari cangkangnya.

"Halo......engkau siapa?" ia menyapa Ina.

"Halo......tentu saja aku ibumu. Dan engkau adalah anakku!"

"Mamaaa........!"  Anak ayam itu berlari memeluknya. "Tapi...mengapa engkau diam saja, mama?  Mengapa engkau tidak beranjak dari tempat dudukmu?" tanyanya lagi.

"Sayang....mama bukannya tidak mau beranjak dari tempat duduk mama.  Tapi lihatlah.  Masih ada tujuh lagi saudaramu yang belum juga mau keluar dari cangkangnya," Ina menjawab. "Sebagai penanda, engkau kupanggil si "Pertama".  Artinya engkau adalah saudara yang paling tua karena menetas terlebih dahulu!"

"Oooo....jadi itukah namaku? Si Pertama.  Kedengarannya nama yang hebat.  Terima kasih, mama!"

Keesokan harinya telur yang kedua mulai menetas.  Keesokan hari dan keesokan harinya lagi telur-telur yang lain mulai menyusul.  Ina sangat bahagia.  Akhirnya telur-telur itu menetas meskipun ia harus menunggu lama.  Ia memberikan nama si Kedua....Ketiga.....Keempat....Kelima....Keenam dan terakhir Ketujuh.  Mereka semua terlihat begitu imut dan menggemaskan.

Sayangnya ada satu telur yang kelihatannya tidak akan pernah menetas.  Tampaknya ia begitu kukuh bertahan hidup di dalam cangkang.  Telur itu terlihat agak berbeda dalam segi bentuk dan warna.  Ia agak sedikit lebih besar dan berisi. Meskipun cemas, toh akhirnya Ina memutuskan untuk tetap mengeraminya.

Sebulan telah berlalu dan kesabaran Ina si ayam betina sudah hampir hilang.  Ingin rasanya ia beranjak dari tempat mengeramnya sekarang.  Anak-anaknya yang lain butuh makan.  Mereka semua masih memerlukan ibunya.

Pada saat Ina hampir hilang kesabaran, tiba-tiba saja keajaiban terjadi.  Telur terakhir mulai retak dan bergerak sendiri.  Seraut wajah muncul.

"Halooo......!  Mamaa.......!" Ia terengah-engah memeluk Ina.

"Ah...hai...halooo.......!" Ina menjawab sambil balas memeluk. Tapi kemudian ia sadar ada yang aneh.  Si Bungsu tampak begitu berbeda dengan saudara-saudaranya yang lain.  Ia terlihat lebih besar dan kuat.  Paruhnya pun berbeda.  Ina memandangnya lekat. Tapi tak apalah, mungkinkarena sudah terlalu lama di dalam cangkang ia menjadi terlihat aneh.

Keesokan harinya, Ina mengajak ke delapan anaknya berjalan-jalan di peternakan.  Sambil lalu ia mengais-ngais tanah mencari cacing untuk makan anak-anaknya.  Semua terlihat senang dan gembira.  Anak-anak ayam yang lucu itu berlarian ke sana kemari dengan girang.  

Tiba-tiba mereka berpapasan dengan keluarga Uti si Bebek.  Anak-anak Uti juga masih kecil-kecil.  Kelihatannya mereka juga baru menetas.  Hanya saja yang aneh, ada satu anaknya yang mirip sekali dengan anak-anak Ina si Ayam Betina.  Sepertinya ada yang tidak beres.

"Hai Ina....apa kabar?" Uti menyapa terlebih dahulu.

"Baik Uti.....kamu juga baik-baik saja, kan?"  Ina menjawab.

"Mmmmm....bolehkah kutanyakan sesuatu. "Mengapa anakmu ada satu yang begitu mirip dengan anakku?"

"Mmmmm....dan mengapa juga ada anakmu yang begitu  mirip dengan anakku?" Ina balas bertanya.

"Atau jangan-jangan...........!" Ina dan Uti bicara bersamaan. "Jangan-jangan mereka tertukar oleh Pak Udi si pemilik peternakan waktu beliau beres-beres waktu itu.  Jangan-jangan Pak Udi tidak sadar bahwa ada satu telur yang tertukar," kembali mereka berdua bicara bersamaan.

Dan akhirnya terpecahlah misteri mengapa ada dua makhluk itu begitu berbeda dengan yang lain.  Ternyata mereka berdua memang berbeda ibu.  Dengan penuh bahagia, akhirnya Ina dan Uti sepakat untuk mengambil kembali anak mereka masing-masing.  Dan akhirnya, kedua keluarga itu hidup rukun dan damai selamanya.

Friday, December 9, 2016

Belajar Menabung

Diposkan oleh Martina Felesia di 8:09 PM 0 komentar
Aku ingat orangtuaku selalu mengingatkan aku untuk rajin menabung.  Belajar berhemat.  Belajar menyisihkan sedikit dari uang yang kita punya.  Aku tidak mengerti.  Mengapa aku harus rajin menabung.  Apalagi harus belajar berhemat.  Aku suka sekali jajan.  Mungkin salah satu hobiku adalah jajan dan makan.

Di sekolah, dalam setiap pengajarannya, Ibu dan Bapak guru juga selalu mengingatkan untuk menabung.  "Belajar menabunglah, Nak!  Suatu saat nanti semua akan berguna bagi kamu sendiri."

Aku tambah bingung.  Kalau uang sakuku harus kutabung, lalu untuk apa aku diberi uang saku?  Bukankah uang saku itu diberikan untuk membantu aku jika mulai terasa lapar di saat bekal yang kubawa dari rumah mulai habis?  Ah, aku sungguh tidak mengerti.

Tapi, di tengah ketidakmengertianku, sedikit demi sedikit aku mulai belajar menabung.  Uang saku yang kuterima dari Ibuku tidak semuanya kubawa ke sekolah.  Hanya separuh yang kubawa.  Separuhnya lagi kutinggal di rumah.  Sebagai gantinya, aku berusaha membawa dua bekal dari rumah.  Tak lupa aku juga membawa sebotol besar air putih untuk minum di sekolah.  Sebisa mungkin aku menahan diri supaya tidak jajan.  Untuk melupakan hobi jajan, aku menghabiskan waktu istirahatku dengan bermain di halaman atau membaca buku di perpustakaan.  Aku ingin hidup hemat sesuai nasehat kedua orangtuaku.
Tanpa terasa, sudah berbulan-bulan aku menabung.  Aku sudah terbiasa untuk tidak jajan di kantin atau jajan di warung dekat sekolah.  Setiap keinginanan jajan itu datang, aku selalu ingat, bahwa aku sudah makan bekal yang kubawa dari rumah.
Pada bulan Desember, iseng-iseng aku mengangkat celenganku.  Waduh...ternyata sudah berat.  Uang receh yang rajin kumasukkan ke dalamnya selama berbulan-bulan rupa-rupanya mulai berbuah.  Aku senang sekali.  Setiap hari aku mengangkat-angkat celenganku.  Sudah tak sabar rasanya aku pergi nonton bioskop dengan uang hasil tabunganku sendiri.

Satu minggu sebelum Natal, sesudah mengambil raport semester pertama, aku mengambil celenganku.  Aku minta iin kepada Ibu untuk membongkar celengan itu.  Dan aku sangat senang ketika Ibu mengangguk tanda setuju.  Dengan bersemangat dibantu adikku, kami berdua mulai membongkar dan menghitung setiap receh yang ada di dalamnya.

Akhirnya.....Rp149.900.  Itu jumlah total uangku.  Uang yang kutabung sendiri. Uang yang kukumpulkan berbulan-bulan. Sungguh bahagia rasa hatiku.

Ternyata, menabung itu susah sekali.  Harus ada kemauan dan niat.  Sekarang aku baru tahu bagaimana rasanya mencari uang.  Bagaimana rasanya mengumpulkan uang sen demi sen.  Aku jadi lebih mengerti kedua orangtuaku.  Suatu saat nanti, aku pasti akan membahagiakan mereka berdua.

Monday, July 4, 2011

Adinda

Diposkan oleh Martina Felesia di 9:37 AM 0 komentar
Hari ini ujian semester II akan dimulai.  Adinda mengemasi buku-buku sekolahnya dan bersiap untuk berangkat ke sekolah.  Hatinya senang.  Ia merasa pasti bisa mengerjakan semua soal karena sebelum ini ulangan hariannya selalu mendapatkan nilai bagus.  Memang sih ia tidak sepenuhnya belajar dari unit awal sampai akhir.  Sesekali ia sempatkan bermain facebook meskipun harus sembunyi-sembunyi karena takut ketahuan ibu.  Tapi ia yakin, ia pasti bisa mengerjakan soal-soal ujian dengan baik.

"Dinda, jangan lupa sarapan dulu ya....!" ibu berteriak.

"Nggak usah Bu......Dinda buru-buru....!" jawab Dinda seraya mengambil sepeda dayungnya.  Setelah mengucapkan salam, ia langsung berangkat ke sekolah.

Hari pertama, gampang.  Hari kedua bisa dilalui dengan mudah.  Hari ketiga agak puyeng karena ada Matematika, tapi bisa dilalui dengan selamat.  Hari keempat ia pulang dengan tersenyum.  Hari kelima lagi-lagi dibutuhkan konsentrasi tinggi karena ada pelajaran Math.  Hari keenam lumayan karena tinggal Bahasa Mandarin dan menggambar.  Hore.....selesai.....!

Seminggu kemudian tinggal terima raport.  Adinda tersenyum simpul.  'Semester ini aku pasti bisa mengalahkan Emon si ranking satu' pikirnya.  Tapi bagaimana kalau tidak masuk ranking ya?  Jujur saja kemarin itu waktunya lebih banyak untuk main game di internet dan ber-facebook ria dengan teman-teman.  Wah, sayang sekali kalau tidak dapat ranking.  Kesempatan untuk dapat uang saku dari kantor ayah bisa batal dong.

Saat pengambilan raport pun tiba.  Kali ini ibu yang akan mengambil raportnya.  Gawat deh!  Bisa-bisa kena omel kalau nilainya jeblok.  Hati Adinda mulai kebat-kebit.  Meskipun ia merasa bisa mengerjakan soal, ia agak kuatir karena kemarin-kemarin tidak fokus dalam belajar. 

Sesampai di sekolah ia bertemu dengan beberapa teman yang ternyata juga ikut mengambil raport.  Bersama-sama mereka melihat papan pengumuman sekolah untuk melihat siapa-siapa yang masuk dalam sepuluh besar.

"Hei Din, kamu ranking dua tuh....!" Rani berseru.

"Oya? Waduh....selamat deh aku nggak kena omel!" jawab Dinda sambil tersenyum gembira.  Ia bergegas menunggu ibu di depan pintu kelas untuk melihat hasilnya.

Wajah ibu terlihat senang.  Ia bangga pada pencapaian Dinda semester ini.  Meskipun demikian ibu sempat memberikan beberapa nasehat kepada dirinya. 

"Seharusnya Dinda bisa lebih bagus lagi nilainya jika mau belajar dengan tertib dan teratur waktunya.  Tidak belajar kalau hanya ada ujian.  Ingat tidak pelajaran tentang right and duty?  Kewajiban seorang murid adalah belajar.  Sesudah melakukan tugas atau kewajiban, boleh menuntut haknya, yaitu dapat nilai bagus", kata ibu. "Murid yang meremehkan tugas atau kewajibannya itu adalah murid yang sombong.  Merasa lebih pintar dari orang lain.  Sementara banyak murid lain yang tengah belajar keras supaya mendapatkan nilai terbaik".

"Iya Bu...maafkan Dinda.  Dinda akan belajar lebih keras lagi mulai semester ini.  Tapi...ngomong-ngomong....kita jadi nonton kan Bu?  I have to get my right after doing my duty!"

"Dindaaaaa........!!!

Sunday, May 29, 2011

Cingcing si Kucing

Diposkan oleh Martina Felesia di 7:50 PM 0 komentar
Suatu hari Cingcing si kucing kehilangan mamanya.  Ia sibuk mencari-cari di mana mama dan kedua saudaranya yang lain yaitu Cingcung dan Cingcong.  Di lihatnya tempat tidur Cingcung dan Cingcong sudah tertata rapi pagi itu, tapi ia tidak bisa menemukan mereka.  Ia menuju dapur dan dilihatnya segelas susu bagiannya sudah mulai dingin sementara mama kucing tidak terlihat di dapur.

Cingcing mulai panik.  Ia berteriak memanggil-manggil mamanya.  Mula-mula pelan.  Lama-lama keluarlah tangisannya yang begitu kencang.  "Mamaaaa..............di mana mama? Wuaaaa...........!!!"

Pak Bul si anjing buldog mendengar suara Cingcing meraung-raung.  Dengan spontan ia berlari menuju rumah Cingcing untuk melihat apa yang terjadi.  Jangan-jangan ada penjahat yang berusaha untuk masuk ke dalam rumah.  Tergopoh-gopoh Pak Bul segera mencari keberadaan Cingcing.

"Cingcing, ada apa? Mengapa kamu menangis sekencang itu?" tanya Pak Bul.  Dilihatnya Cingcing sedang meringkuk sedih di kursi.

"Aku kehilangan mamaku.....di mana mamaku Pak Bul?  Apakah bapak melihatnya?" tanya Cingcing sembari terisak-isak.

"Sebenarnya sih aku tidak melihatnya," jawab pak Bul, "tapi jika engkau mau aku bisa menemanimu mencari mama dan kedua saudaramu," jawab pak Bul lagi.

Cingcing agak terhibur mendengar jawaban Pak Bul.  Dengan bersemangat ia mengikuti pak Bul untuk bersama-sama mencari mamanya.

Di luar mereka berjumpa dengan ibu Titik si itik yang sedang menjemur pakaian.  Tampaknya ibu Titik sedang sibuk sekali pagi itu.  Hanya saja daripada tidak bertanya sama sekali, Cingcing dan pak Bul akhirnya menghampirinya untuk menanyakan keberadaan nyonya kucing.

"Maaf, bu Titik, apakah engkau melihat mamanya Cingcing hari ini?  Ia ketakutan sekali melihat mama dan kedua saudaranya tidak berada di rumah pagi ini," tanya pak Bul.

"Waduh, aku tidak melihatnya," jawab bu Titik," sejak pagi aku  sibuk menyiapkan bekal sekolah untuk anak-anakku," kata bu Titik lagi.

"Sekolah?" tanya Cingcing tiba-tiba. "Aku ingat sekarang, mama berjanji mengantar kami ke sekolah hari ini!  Apa mungkin mama mengantar Cingcung dan Cingcong ke sekolah ya?"

"Kami???" tanya pak Bul dan bu Titik bersamaan.

Cingcing kucing tertunduk malu," Iya.....seharusnya kami bertiga harus masuk sekolah hari ini.  Hanya saja aku ngantuk sekali waktu mama membangunkan aku tadi pagi."

Pak Bul dan bu Titik saling memandang.  Mereka hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan Cingcing.

"Kalau begitu, ayo kita tunggu mamamu di rumahku!" ajak pak Bul. "Istriku membuat roti bolu yang enak sekali tadi pagi".

Tak lama kemudian mama kucing datang.  Ia meninggalkan dua saudara Cingcing di sekolah karena ia cemas meninggalkan Cingcing di rumah sendirian.  Bergegas ia pulang dan menjemput Cingcing di rumah pak Bul setelah bu Titik memberitahunya barusan.

"Mamaaa.......!" seru Cingcing riang ketiak melihat ibunya. "Mulai besok aku tidak akan tidur terlalu malam lagi, Ma!  Supaya aku besok tidak terlambat masuk sekolah!" kata Cingcing sambil memeluk mamanya.

"Bagus kalau begitu," jawab mamanya lembut.  "Mulai nanti malam, kamu harus tidur agak awal, supaya besok tidak ngantuk jika mama bangunkan.  Menonton TV terlalu banyak tidak baik untuk anak sekolah.  Membuat pikiran capek dan tidak berkonsentrasi.  Bagaimana bisa pintar kalau waktu nonton TV atau main game lebih banyak daripada waktu untuk belajar?" kata mama kucing lagi.

"Maafkan aku, Ma!  Mulai sekarang aku berjanji untuk menjadi kucing yang pintar dan patuh pada kata-kata mama!" jawab Cingcing lagi.

Mama kucing memeluk Cingcing dengan sayang.  Setelah mengucapkan terima kasih kepada pak Bul dan istrinya, mereka berdua segera pulang ke rumah karena mama harus menyiapkan makan siang untuk mereka semua. 

Sejak saat itu, Cingcing dan kedua saudaranya selalu pintar membagi waktu.  Mereka akan mematikan TV jika waktu belajar tiba.  Setiap hari mereka belajar tanpa di suruh mama.  Ternyata bersekolah itu menyenangkan dan belajar itu membuat pintar.

Tuesday, January 11, 2011

Liburan Semester 1

Diposkan oleh Martina Felesia di 1:08 PM 0 komentar
Satu minggu sebelum natal, sekolahku sudah diliburkan.  Senang rasanya, setelah melewati masa2 serius memikirkan pelajaran aku boleh bersenang-senang.  Main sepeda, main internet, main ke rumah teman seharian.

Beberapa hari sebelum natal, aku mendapat kado baju baru dari Bunda.  Kado itu sebagai hadiah karena raportku bagus  dan aku mendapatkan ranking 2 di sekolah.  Aku senang sekali karena dengan begitu aku bisa pakai baju baru saat natal tiba.

Pas saat acara tutup tahun, kami mengadakan acara keluarga di rumah.  Keluarga Om Gipi juga ikut.  Kami bikin acara bakar2 sate buaya, sate ayam dan sosis.  Banyak kue, banyak permen dan banyak teman untuk bersenang-senang.  Adikku Altar dan Lunar yang biasanya sudah tidur jam sembilan malam hari itu masih berkeliaran sampai jam tiga pagi dini hari.  Sungguh acara yang sangat menyenangkan.

Beberapa hari sebelum masuk sekolah, ayah membelikanku tas baru sebagai hadiah dapat ranking 2.  Ditambah dengan acara nonton film 3D di bioskop bersama dengan teman dan adikku Altar.   Filmnya tentang Gulliver's Travel.  Filmnya bagus sekali.

Aku sangat senang liburan sekolah semester ini.  Meskipun sempat sakit pada tanggal 1 & 2 Januari, tapi aku sangat senang karena semua keinginanku tercapai.  Hanya satu keinginanku yang belum terlaksana karena kondisi badan yang tidak sehat :  berenang di water park!

Terimakasih Ayah, terimakasih Bunda, liburan kali ini begitu berkesan!

Kecoak dan Cicak

Diposkan oleh Martina Felesia di 12:53 PM 0 komentar
Seekor kecoak meloncat keluar dari saluran air di kamar mandi.  Ia heran mengapa ia tidak bisa menemukan kecoak lainnya di kamar mandi itu.  Di tempat lain biasanya ia bertemu dengan tiga atau empat ekor kecoak sekaligus.  Bahkan tak jarang ia bisa menemukan cacing dan lipan2 kecil di dalamnya.

Sang kecoak mulai mengamati sekitarnya.  Perlahan tapi pasti, ia berjalan berkeliling di dalam kamar mandi.  Ia melihat lantai kamar mandi yang bersih.  Ia melihat dinding kamar mandi  tanpa ternoda kotoran sedikitpun.  Ia melihat tidak ada handuk atau pakaian kotor berserakan atau ditaruh sembarangan.  Semua rapi tersimpan di dalam ember cucian.  Ia juga melihat, bahwa semua barang2 kebutuhan kamar mandi berada tepat di tempatnya.  Tidak ditaruh sembarangan sehingga menimbulkan kesan berantakan.

Kecoak itu berkeliling lagi.  Ia mulai gelisah.  Tidak biasanya ia tersesat di tempat sebersih ini.  Ia menghirup bau wangi pengharum lantai.    Hhmm.....wangiiii.......!  Pantas tidak satu ekor kecoak pun yang ia jumpai di sini.  Tidak ada suasana kotor di mana teman2nya biasa berkumpul di sana.  Semua bersih dan wangi.

"Hai......!  Siapa kamu?" tiba-tiba si Kecoak mendengar suara dari dinding kamar mandi.  Seekor cicak sedang merayap di sana dan sedang mencoba berbicara dengannya.  Si Cicak dengan ramah menghampiri sang kecoak yang sedang kebingungan.

"Hai....!  Aku Kecoak!  Kamu siapa?" ia balas bertanya.  Tanpa malu2 lagi ia pun menghampiri si Cicak.

"Aku Cicak.....!  Aku penghuni tetap rumah ini!" kata cicak mencoba menjelaskan.  "Kenapa kamu ada di sini?" ia bertanya lagi.

"Iya nih, aku sedang mencari teman2ku.  Ternyata tidak satu pun kujumpai mereka di sini.  Rumah ini terlalu bersih dan rapi.  Tidak mungkin mahkluk2 kotor seperti kami tahan berada di sini!" si Kecoak melanjutkan.

"Ooo...memang betul itu!  Penghuni rumah ini sangat menjaga kebersihan.  Bunda tidak bisa melihat rumahnya kotor.  Itu sebabnya sejak kecil anak2 diajarkan cara menjaga kebersihan.  Membuang sampah harus di tempatnya.  Menyikat gigi sebelum tidur dan saat bangun tidur.  Menaruh baju2 kotor pada tempatnya dan membersihkan tempat tidur setiap hari," Cicak menjelaskan panjang lebar.

"Kalau begitu aku salah masuk.  Biasanya aku masuk ke kamar mandi yang jorok, melompat-lompat di dapur yang penuh sampah.  Senang rasanya berada di tempat kotor seperti itu!" kata si Kecoak.

"Kalau begitu kamu harus segera pergi dari sini.  sebelum Bunda melihatmu dan memukulmu dengan sapu.  Ayo!  Cepat pergilah!  Biasanya tidak ada kecoak yang selamat jika sudah bertemu dengan sang nyonya rumah ini!" kata Cicak mengingatkan.

"Baiklah, Cicak!  Aku akan segera pergi.  Terimakasih atas peringatannya.  Aku tidak akan salah masuk rumah lagi.  selamat tinggal Cicak...!" kata Kecoak sambil berlari ke tempat saluran pembuangan air di kamar mandi. 

"Oke....selamat jalan Kecoak!" kata Cicak bersemangat.

Sejak saat itu, Kecoak sangat berhati-hati memilih rumah yang akan dia masuki.  Jika terlihat rapi dan bersih, ia tidak akan berani menerobos masuk.  Tapi jika rumah itu jorok, kotor dan bau, ia dengan senang hati akan mengundang teman2nya untuk memasuki rumah itu.  Kecoak membenci rumah yang bersih dan mencintai rumah yang bau dan tidak bersih.

Wednesday, August 4, 2010

Sop Spesial Buatan Bunda

Diposkan oleh Martina Felesia di 6:25 PM 0 komentar
Pada suatu hari Minggu yang cerah Bunda pergi ke pasar.  Dibelinya beberapa macam sayuran, sebungkus bakso, dan beberapa potong daging ayam.  Hari itu Bunda berencana untuk memasak sop ayam spesial untuk keluarga.

Sebelum memasak, dicucinya semua bahan sayuran yang dibutuhkan dan diletakkan terlebih dahulu dalam sebuah tempat supaya airnya bisa ditiriskan. Kesempatan itu rupanya tidak disia-siakan oleh para sayuran untuk saling mengenal satu sama lain.

Kentang dengan pongah berkata, "Halo!  Namaku Kentang.  Hari ini aku akan dijadikan makanan yang sangat spesial oleh nyonya rumah ini.  Itu sebabnya aku dibersihkan terlebih dahulu sebelum dikupas nanti.  Maklum, aku termasuk sayuran yang sangat penting dan bergizi!"

Wortel yang tengah mematut-matut diri memandangnya dengan iri, " Namaku Wortel!  Aku juga termasuk sayuran yang penting.  Tanpa aku, banyak orang yang terganggu kesehatan matanya.  Itu tak lain karena aku mengandung Vitamin A yang sangat dibutuhkan oleh semua orang", ia menambahkan sambil bergaya.

Buncis yang sedari tadi diam akhirnya tidak tahan juga untuk tidak memberikan tanggapan," Jangan lupa, namaku Buncis!  Kurasa akulah yang paling penting.  Buktinya aku selalu dicari oleh para ibu untuk masakan mereka!"

Sayuran yang lain hanya saling berpandangan .  Mereka berbisik-bisik dan diam-diam menertawakan kesombongan ketiga sayur itu.  Seharusnya tidak perlu bertengkar.  Toh semua akan dimasak secara bersamaan.

Tak lama kemudian masuklah Bunda ke dapur.  Dengan sigap dipotong-potongnya kentang menjadi potongan kecil-kecil.  Demikian juga dengan wortel dan buncis.  Kemudian dimasukkannya ke dalam air berisi potongan daging ayam yang sudah mendidih.  Supaya lebih mantap dimasukkannya potongan bakso dan sedikit sosis ke dalam panci.  Sesuai dengan judulnya yang serba spesial, ia menumis semua bumbu dengan mentega terlebih dahulu sebelum dimasukkan ke dalam air berkaldu.  Terakhir kali ia menaburkan potongan daun bawang, daun sop dan bawang goreng ke atas sop yang sudah jadi.  Yummy!  Betul-betul spesial sesuai dengan namanya.

Pelajaran yang bisa diambil dari cerita di atas adalah, berlagak sombong itu tidak berguna.  Semua ciptaan adalah penting.  Semua istimewa.  Semua bisa dipergunakan untuk kepentingan manusia.  Contohnya sop spesial bikinan Bunda.  Jika terdiri dari satu jenis sayur saja bagaimana rasanya?  Apa enak  makan sop yang terdiri dari kentang saja?  Atau wortel saja?  Atau buncis saja?  Apalagi hanya terdiri dari potongan daun bawang dan daun sop saja.  Wah....gimana rasanya ya?

Sama seperti dalam hidup ini.  Jika suatu pekerjaaan dikerjakan bersma-sama, tanpa merasa lebih penting satu sama lain, maka hasilnya akan maksimal.  Akan menyenangkan.  Semua bisa bahagia.  Sama seperti anak-anak yang juga senang dan bahagia karena bisa menikmati sop spesial bikinan Bunda.
 

All About Kids Copyright © 2011 Design by Ipietoon Blogger Template | web hosting